Connect with us

Nasional

Mahfud MD Ungkap Kisah Haru Gus Dur Curi Hati Rakyat Papua: Lihat Matahari Terbit Pertama pada 2001

Avatar

Published

on

Pakar Tata Hukum Negara, Mahfud MD teringat dengan Presiden ke 5 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur saat membahas Papua di acara 'Indonesia Lawyers Club (ILC)' pada Selasa (3/9/2019). Mahfud MD teringat sosok Gus Dur lantaran sejumlah bintang tamu yang hadir di ILC berulang kali menyebut mantan presiden RI tersebut. Mahfud MD kemudian membeberkan kisah haru Gus Dur saat melakukan pendekatan dengan rakyat Papua.

Pada tahun baru 2001, Gus Dur rela terbang ke bumi Cendrawasih hanya untuk melihat matahari terbit pertama bersama rakyat Papua. "Gus Dur itu pendekatannya dari hati coba, coba apa tidak tidak terharu ketika suatu saat mengumumkan Presiden Republik Indonesia akan berakhir tahun di Papua karena ingin melihat matahari terbit yang pertama tahun 2001," tutur Mahfud MD. Menurut Mahfud MD, orang Papua bisa melihat ketulusan yang dilakukan Gus Dur bagi mereka.

"Padahal Gus Dur ndak bisa lihat matahari, tapi dia karena cinta pada Papua itu, pendekatan hati, saya mau lihat matahari pertama terbit di Indonesia pada tahun ini ya." "Tanggal 31 berangkat, pagi dia sudah duduk nunggu matahari terbit, dia ndak bisa lihat matahari. Tapi rakyat Papua tahu ini hati," jelasnya. Tak hanya itu, Gus Dur bahkan juga memperbolehkan bendera bintang kejora berkibar dengan catatan tertentu.

"Pendekatan hati, Bintang Kejora bendera oke. Silahkan pakai bintang kejora tapi jangan lebih tinggi dari merah putih," lanjut Mahfud MD. Tak berhenti di sana, anggota BPIP itu juga bercerita soal Gus Dur yang tidak mempermasalahkan soal diskusi kemerdekaan Papua asal jangan sampai ada deklarasi. "Gus, 'bapak presiden saya mau ngajak diskusi kita kemerdekaan kita ayo diskusi'

'Kata Gus Dur soal kemerdekaan 'ayok diskusi saya ikut'," jelas Mahfud MD. Sehingga, melakukan diskusi itu sah sah saja dilakukan. "Tetapi jangan deklarasi, coba diajak diskusi ndak dilarang diskusi merdeka oleh Gus Dur kan ," tuturnya.

"Mas Yoris juga diskusi, siapa diskusi tapi jangan deklarasi mari diskusi gitu, karena kamu bagian dari saya, saya bagian dari kamu,"imbuh Mahfud MD. Menurut pria 62 tahun itu, sejatinya pemerintah saat ini juga tengah berupaya melakukan pendekatan pada rakyat Papua. Kendati demikian, pendekatan pendekatan yang dilakukan pemerintah belum berhasil.

"Nah, pendekatan pendekatan seperti itu penting, dan semua pendekatan memprogramkan seperti itu, tetapi belum berhasil," ujarnya. Sehingga, hal ini menjadi tanggung jawab bersama agar persatuan Indonesia terwujud dengan baik. "Nah saya kira kita harus mencari cara cara apa yang harus dilakukan," tegas Mahfud MD

Sebelumnya,Anggota DPD RI terplih Papua Yorris Raweyai yang turut hadir di ILC membeberkan dua presiden yang dicintai oleh rakyat Papua. Dua presiden Indonesia itu adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Joko Widodo (Jokowi). Mulanya, Yorris membeberkan Kongres Adat Papua yang kedua pada 1999.

Kala itu, Gus Dur membuka diri dengan adanya diskusi yang ada di Papua. "Pak Gus Dur membuka diri, Pak Gus Dur bilang 'Oke saya akan siap'," jelas Yorris menirukan kata kata Gus Dur kala itu. Gus Dur tak hanya memberikan kebebasan pendapat, bahkan turut memfasilitasi.

"Lalu Beliau membiayai kita Rp 1 miliar melakukan kongres adat Papua, sebelum kongres itu dilakukan kongres dewan adat. Dilakukanlah kongres, keluarlah hasil hasil itu, lalu dialog, lalu tanggal 1 Januari Gus Dur ke Papua," papar Yorris. Sehingga, Yorris menilai Gus Dur itu seperti Jokowi sekarang. Kedua presiden itu berhasil merebut hari rakyat Papua.

"Makanya Gus Dur itu sama dengan Pak Jokowi sekarang berada di hati orang Papua, itu Gus Dur dan Jokowi ini sama. Masyarakat mencintai itu," jelasnya. Bahkan, Jokowi menang 100 persen dalam Pilpres 2019 di Kabupaten Nduga. Sedangkan, Kabupaten Nduga kini tengah mengalami konflik.

"Kalau kita mau berbicara tentang Nduga yang sekarang kejadian, kemarin Pilpres 100 persen pilih Jokowi, itu seratus persen jumlah keseluruhan 94 persen tapi Nduga yang sekarang ini jadi konflik Piplres itu 100 persen," papar pria asal Serui tersebut. Kemudian, Yorris kembali menceritakan bagaimana Gus Dur bisa mencuri hati rakyat Papua. "Singkat cerita Pak Karni, dari proses proses itu Gus Dur mengembalikan nama Irian menjadi Papua sebagai jati diri dengan bendera kultur yaitu Bintang Kejora kemudian lagu Hai Tanahku adalah nyanyian dalam seruling emas bagi umat Kristen," jelasnya.

Meski Bintang Kejora diperbolehkan, namun bendera tersebut tidak boleh berdiri lebih tinggi dari merah putih. "Dua ini boleh pada waktu Beliau. Beliau katakan sekarang kita tinggal mengatur tata cara penggunaan terhadap dua simbol itu." "Pertama bendera dalam setiap kegiatan ini harus lebih rendah dari bendera merah putih, dalam menggambarkan kultur dan jati diri orang Papua," tutur Yorris.

Yorris meminta agar jangan ada tanggapan seperatis terkait adanya bendera Bintang Kejora. "Jadi itu yang berkembang sekarang oleh generasi baru dia menyampaikan pendapat menggunakan bendera ini jangan katakan bendera ini bendera makar, bendera separatis bukan. Itu simbol sebagai lambang kultur orang Papua," ujar laki laki 68 tahun tersebut.

Nasional

Komandan PMPP TNI Perkirakan Proses Autopsi Jenazah Serma Rama di Uganda Berlangsung 4 Hari

Avatar

Published

on

Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Mayjen TNI Victor Hasudungan Simatupang memperkirakan proses autopsi jenazah prajurit TNI anggota Satgas Kizi TNI Konga XX Q/Monusco, Serma Rama Wahyudi, yang gugur saat menjalankan tugas misi sebagai pasukan perdamaian PBB di wilayah Republik Demokratik Kongo, Afrika akan berlangsung selama empat hari di rumah sakit di Uganda. Victor mengungkapkan proses autopsi tersebut merupakan bagian dari Standard Operational Procedure yang sudah ditentukan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Victor mengungkapkan berdasarkan kabar terakhir yang diterimanya pada Kamis (25/6/2020) malam jenazah Serma Rama tengah dalam proses pemeriksaan covid 19 di Kongo.

Hal tersebut diungkapkan Victor saat konferensi pers di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur pada Jumat (26/6/2020). "Kondisi jenazah Sersan Mayor Rama Wahyudi sampai tadi malam dilaporkan kepada saya bahwa masih dalam proses bebas covid 19 dari negara Kongo dan ini kalau covid 19 hari ini selesai akan diterbangkan ke Uganda untuk dilaksanakan otopsi. Ini memakan waktu lebih kurang empat hari," kata Victor. Ia berharap proses autopsi dan seluruh administrasi jenazah almarhum Serma Rama bisa selesai pada 30 Juni 2020.

Rencananya jenazah almarhum Serma Rama akan dikirim dengan pesawat komersil dan tiba di Jakarta pada 2 Juli 2020. "Jadi kemungkinan tanggal 2 (Juli 2020) sampai di Jakarta nanti akan disemayamkan di kargo yang ada di Cengkareng. Dari sana nanti akan diurus untuk dikirimkan langsung ke kediaman yang bersangkutan di Pekanbaru untuk dimakamkan di Pekanbaru sesuai dengan permintaan keluarga," kata Victor.

Continue Reading

Nasional

Prakiraan Cuaca 33 Kota di Indonesia Sabtu 27 Juni 2020 Semarang Cerah di Pagi Hari Info BMKG

Avatar

Published

on

Berikut prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk 33 kota di Indonesia, Sabtu (27/6/2020). Prakiraan cuaca 33 kota di Indonesia ini BMKG rilis melalui situs resmi BMKG.go.id. Terpantau, lima kota diperkirakan hujan di pagi hari dengan intensitas berbeda beda.

Sementara itu, lima kota lainnya diperkirakan bercuaca cerah di pagi hari, termasuk Yogyakarta dan Semarang. Terdapat 12 kota yang diperkirakan cerah berawan di pagi hari, termasuk Jakarta Pusat dan Bandung. Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah

Pagi : Berawan Siang : Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Lebat Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Udara Kabur Siang : Hujan Lokal Malam : Berawan Dini hari : Udara Kabur Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Ringan Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Berawan Siang : Hujan Ringan Malam : Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Berawan Tebal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Hujan Lokal Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Berawan Tebal

Pagi : Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Sedang Malam : Hujan Ringan Dini hari : Hujan Sedang Pagi : Berawan Tebal Siang : Berawan Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Cerah Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Berawan

Pagi : Kabut Siang : Berawan Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Tebal Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Hujan Sedang Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Sedang Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Lokal Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Udara Kabur Siang : Hujan Lokal Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Tebal Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Ringan Dini hari : Hujan Ringan

Continue Reading

Nasional

Anggota TNI yang Sudah Pensiun Tak Bisa Naik Pangkat Lagi Politisi Senior PDIP

Avatar

Published

on

Politisi senior, anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) TB Hasanuddin mengatakan kepangkatan pada Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah susunan sebutan dan keselarasan jenjang pangkat militer dalam Tentara Nasional Indonesia yang terdiri dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. Mulai dari tingkat yang tertinggi (Perwira), Bintara, hingga yang terendah (Tamtama), setiap prajurit diberikan pangkat sesuai dengan keabsahan wewenang dan tanggung jawab dalam hierarki keprajuritan. "Banyaknya pertanyaan tentang kepangkatan di lingkungan TNI, ijinkan saya secara singkat menjelaskan tentang pangkat di lingkungan TNI sekarang ini," kata Hasanuddin kepada wartawan, Senin (22/6/2020).

Menurut Hasanuddin, di masa lalu kepangkatan aturannya masih sangat longgar karena saat itu TNI (ABRI) masih melaksanakan tugas Dwi Fungsi ABRI. Sehingga, kata dia, jabatan di militer pun kadang dipengaruhi oleh posisi di partai politik. "Seorang anggota TNI/ABRI aktif yang bertugas di DPC (Dewan Pimpinan Cabang) atau DPD 2 partai tertentu secara otomatis mendapatkan pangkat Kolonel," kata purnawirawan bintang dua TNI AD ini.

Hasanuddin menambahkan, perwira TNI yang bertugas sebagai ketua DPD 1 (Dewan Pimpinan Daerah) di tingkat provinsi mendapatkan pangkat Brigadir Jenderal. "Gubernur sudah pasti akan mendapatkan pangkat Bintang 2 (Mayor Jenderal) kecuali gubernur DKI Jakarta mendapat Bintang 3," tuturnya. Belum cukup, kata Hasanuddin, di masa Orde Baru (Orba) masih diberlakukan pangkat kehormatan (Hor).

Kolonel yang berprestasi baik, imbuh dia, kemudian pensiun maka padanya diberikan Brigjen Hor sebelum menjalankan masa pensiunnya atau Brigjen menjadi Mayjen Hor. "Atau Mayjen menjadi Letjen Hor. Bahkan setelah pensiunpun kadang masih ada yang diusulkan kenaikan pangkatnya dari Mayjen Pur menjadi Letjen Pur Hor. Dari Letjen Pur menjadi Jenderal Pur Hor," ungkapnya. Menurut Hasanuddin, di era Reformasi, setelah keluar Undang Undang No. 34/2004 tentang TNI, maka aturan aturan kepangkatan seperti di atas sudah tidak berlaku lagi.

Ia membeberkan, dalam pasal 27 UU no 34 tahun 2004 dijelaskan , bahwa pangkat menurut sifatnya dibedakan sebagai berikut : A. Pangkat efektif diberikan kepada prajurit selama menjalani dinas keprajuritan dan membawa akibat administrasi penuh. B. Pangkat lokal diberikan untuk sementara kepada prajurit yang menjalankan tugas dan jabatan khusus yang sifatnya sementara, serta memerlukan pangkat, yang lebih tinggi dari pangkat yang disandangnya guna keabsahan pelaksanaan tugas jabatan tersebut dan tidak membawa akibat administrasi.

C. Pangkat Tituler diberikan untuk sementara kepada warga negara yang diperlukan dan bersedia menjalankan tugas jabatan keprajuritan tertentu di lingkungan TNI, berlaku selama masih memangku jabatan keprajuritan tersebut serta membawa akibat administrasi terbatas. "Mengacu pada aturan perundang undangan maka dipastikan di TNI sekarang tidak akan terjadi lagi, seorang yang sudah pensiun kemudian naik pangkat lagi. Andaikan terjadi maka dipastikan itu merupakan pelanggaran terhadap UU," pungkasnya.

Continue Reading

Trending