Connect with us

Nasional

Dr Aqua Dwipayana : Bersihkan Sungai, Pemprov Sumut Perlu Belajar ke Jabar

Avatar

Published

on

Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana menegaskan pemerintah provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) perlu dengan serius dan sungguh sunggug belajar ke Jawa Barat (Jabar) untuk membersihkan sungai sungai yang kotor. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo saat menjabat Pangdam III/Siliwangi telah memulai pembersihan sungai Citarum yang dikenal dengan program Citarum Harum. Penegasan itu disampaikan Dr Aqua di depan ratusan peserta Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Lingkungan dan Pengembalian Fungsi Konservasi di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan pada Kamis (8/82019).

Acara yang sangat penting itu dihadiri Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Forkopimda, para Bupati/Walikota se Sumut, OPD dan ASN Pemprov Sumut. Diawali dengan sambutan dan paparan Edy yang menceritakan kondisi sungai sungai di kota Medan dan sekitarnya lengkap dengan foto fotonya. Memprihatinkan sekali. "Pak Doni, di sungai sungai ini masyarakat tidak hanya membuang isi lemari tapi lemarinya juga ikut dibuang. Akibatnya jadi penuh dengan sampah dan membuat tidak sehat," kata Edy dengan serius.

Kemudian Edy menceritakan rencana Pemprov Sumut untuk mengatasi hal tersebut. Dia dan jajarannya sangat serius apalagi ada rencana membangun tol sungai yang mengikuti aliran Sungai Deli. Dimulai 15 Agustus 2019 mendatang dengan biaya sekitar Rp 7 triliun. Menurut Edy yang sebelumnya menjabat Pangkostrad, selain membersihkan kawasan sungai dan sekitarnya, pembangunan tol sungai diperkirakan dapat memperlancar lalu lintas jalanan Medan.

Semua dilakukan atas dasar kajian secara ilmiah. "Pak Doni yang sudah memiliki pengalaman dalam menangani Sungai Citarum dan telah ada hasilnya, tolong bantu kami. Serius kami ingin belajar pada Bapak dan tim," ungkap Edy. Dr Aqua melanjutkan bahwa pembersihan Sungai Citarum gagasan Doni yang terkenal dengan program Citarum Harum sudah menunjukkan hasil.

Sungai yang sebelumnya terkenal sebagai sungai terkotor di dunia, mulai bersih. Salah satu kunci sukses membersihkan Sungai Citarum itu lanjut Dr Aqua, adalah pada kekuatan komunikasi sehingga bisa menggerakkan seluruh elemen masyarakat dan pengusaha untuk bersama sama mewujudkan sungai yang bersih dan nyaman serta aman digunakan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. "Saya mengamati Pak Doni sangat memperhatikan masalah komunikasi dengan masyarakat dan pengusaha yang terkena dampak langsung pada program Citarum Harum. Menyampaikan semua rencana pembersihan sungai menggunakan hati dan selalu hati hati. Sehingga umumnya mereka dengan sukarela mengikuti semua saran yang disampaikan oleh Tim Citarum Harum," ujar Dr Aqua.

Contoh tentang hal itu kata penulis banyak buku best seller ini dapat dilihat dari foto foto yang ditampilkan Kolonel Inf Yudi Zanibar Kolonel Inf Yusef Sudrajat dari Tim Citarum Harum. Para penduduk dan pengusaha dengan sukarela membongkar sendiri bangunan bangunan milik mereka yang selama ini merusak lingkungan di sekitar Sungai Citarum. Dr Aqua menyarankan kepada Edy agar belajar pada Tim Citarum Harum dengan melaksanakan "ATM". Itu adalah singkatan dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tim dari Pemprov Sumut yang dibentuk Edy agar dengan tekun, serius, dan sungguh sungguh mengamati semua yang dilakukan Tim Citarum Harum. Kemudian jangan ragu ragu untuk menirunya. Setelah itu memodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat di Sumut.

"Saya yakin pendekatan "ATM" sangat efektif. Silakan Pak Edy coba sehingga pembersihan sungai sungai di Sumut tidak dimulai dari nol. Bisa meniru yang telah dilakukan oleh Tim Citarum Harum," ujar mantan wartawan di banyak media ini. Dr Aqua tidak lupa mengingatkan pentingnya seluruh anggota Tim Pemprov Sumut mendalami Komunikasi Lintas Budaya. Sehingga saat berkomunikasi dengan masyarakat dan pengusaha jadi lancar dan semua tujuannya tercapai. Selama menyampaikan materi presentasinya yang berjudul "Belajar dari Keberhasilan Program Citarum Harum untuk Mengkomunikasikan ke Masyarakat Sumut Pentingnya Kebersihan Sungai", Dr Aqua berkali kali menekankan pentingnya secara serius memperhatikan aspek komunikasi untuk keberhasilan program tersebut.

"Niat baik saja tidak cukup. Harus efektif mengkomunikasikannya ke masyarakat dan pengusaha. Untuk itu semua anggota Tim sebaiknya dibekali dengan kemampuan komunikasi yang komprehensif. Saya siap membantu mewujudkan itu jika Gubernur Sumut Pak Edy membutuhkan bantuan," kata Dr Aqua. Sementara Doni yang tampil sebagai pembicara utama memukau seluruh yang hadir. Mantan Danjen Kopassus itu cerita pengalamannya saat awal membenahi Sungai Citarum. Awalnya, kata mantan Sekjen Wantannas itu, banyak orang yang tidak percaya bahwa Sungai Citarum bisa bersih seperti sekarang ini. Masalahnya selama puluhan tahun jadi tempat pembuangan sampai massal.

"Lewat pendekatan komunikasi ke masyarakat dan pengusaha akhirnya secara bertahap bisa menyadarkan mereka. Jadi benar sekali semua yang disampaikan Pak Aqua tentang pentingnya pemahaman dan penerapan Ilmu Komunikasi secara komprehensif. Ditambah lagi komitmen dan integritas seluruh orang yang terlibat dalam program Citarum Harum. Itu mutlak harus dilaksanakan secara konsisten," tegas Doni. Selain Edy, Doni, dan Dr Aqua, pembicara lainnya dari Tim Satgas Sungai Citarum yakni Kolonel Inf Yudi Zanibar dan Kolonel Inf Yusef Sudrajat, serta Yuhan dari Paguyuban Budiasi Bogor.

Nasional

Komandan PMPP TNI Perkirakan Proses Autopsi Jenazah Serma Rama di Uganda Berlangsung 4 Hari

Avatar

Published

on

Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Mayjen TNI Victor Hasudungan Simatupang memperkirakan proses autopsi jenazah prajurit TNI anggota Satgas Kizi TNI Konga XX Q/Monusco, Serma Rama Wahyudi, yang gugur saat menjalankan tugas misi sebagai pasukan perdamaian PBB di wilayah Republik Demokratik Kongo, Afrika akan berlangsung selama empat hari di rumah sakit di Uganda. Victor mengungkapkan proses autopsi tersebut merupakan bagian dari Standard Operational Procedure yang sudah ditentukan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Victor mengungkapkan berdasarkan kabar terakhir yang diterimanya pada Kamis (25/6/2020) malam jenazah Serma Rama tengah dalam proses pemeriksaan covid 19 di Kongo.

Hal tersebut diungkapkan Victor saat konferensi pers di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur pada Jumat (26/6/2020). "Kondisi jenazah Sersan Mayor Rama Wahyudi sampai tadi malam dilaporkan kepada saya bahwa masih dalam proses bebas covid 19 dari negara Kongo dan ini kalau covid 19 hari ini selesai akan diterbangkan ke Uganda untuk dilaksanakan otopsi. Ini memakan waktu lebih kurang empat hari," kata Victor. Ia berharap proses autopsi dan seluruh administrasi jenazah almarhum Serma Rama bisa selesai pada 30 Juni 2020.

Rencananya jenazah almarhum Serma Rama akan dikirim dengan pesawat komersil dan tiba di Jakarta pada 2 Juli 2020. "Jadi kemungkinan tanggal 2 (Juli 2020) sampai di Jakarta nanti akan disemayamkan di kargo yang ada di Cengkareng. Dari sana nanti akan diurus untuk dikirimkan langsung ke kediaman yang bersangkutan di Pekanbaru untuk dimakamkan di Pekanbaru sesuai dengan permintaan keluarga," kata Victor.

Continue Reading

Nasional

Prakiraan Cuaca 33 Kota di Indonesia Sabtu 27 Juni 2020 Semarang Cerah di Pagi Hari Info BMKG

Avatar

Published

on

Berikut prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk 33 kota di Indonesia, Sabtu (27/6/2020). Prakiraan cuaca 33 kota di Indonesia ini BMKG rilis melalui situs resmi BMKG.go.id. Terpantau, lima kota diperkirakan hujan di pagi hari dengan intensitas berbeda beda.

Sementara itu, lima kota lainnya diperkirakan bercuaca cerah di pagi hari, termasuk Yogyakarta dan Semarang. Terdapat 12 kota yang diperkirakan cerah berawan di pagi hari, termasuk Jakarta Pusat dan Bandung. Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah

Pagi : Berawan Siang : Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Lebat Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Udara Kabur Siang : Hujan Lokal Malam : Berawan Dini hari : Udara Kabur Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Ringan Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Berawan Siang : Hujan Ringan Malam : Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Berawan Tebal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Hujan Lokal Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Berawan Tebal

Pagi : Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Sedang Malam : Hujan Ringan Dini hari : Hujan Sedang Pagi : Berawan Tebal Siang : Berawan Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Cerah Berawan

Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Cerah Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Berawan

Pagi : Kabut Siang : Berawan Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Tebal Pagi : Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Lokal Dini hari : Hujan Sedang Pagi : Cerah Berawan Siang : Cerah Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Sedang Malam : Hujan Ringan Dini hari : Berawan Pagi : Hujan Lokal Siang : Hujan Lokal Malam : Berawan Tebal Dini hari : Berawan Pagi : Cerah Siang : Berawan Malam : Berawan Dini hari : Berawan

Pagi : Udara Kabur Siang : Hujan Lokal Malam : Cerah Berawan Dini hari : Berawan Tebal Pagi : Cerah Berawan Siang : Hujan Lokal Malam : Hujan Ringan Dini hari : Hujan Ringan

Continue Reading

Nasional

Anggota TNI yang Sudah Pensiun Tak Bisa Naik Pangkat Lagi Politisi Senior PDIP

Avatar

Published

on

Politisi senior, anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) TB Hasanuddin mengatakan kepangkatan pada Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah susunan sebutan dan keselarasan jenjang pangkat militer dalam Tentara Nasional Indonesia yang terdiri dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. Mulai dari tingkat yang tertinggi (Perwira), Bintara, hingga yang terendah (Tamtama), setiap prajurit diberikan pangkat sesuai dengan keabsahan wewenang dan tanggung jawab dalam hierarki keprajuritan. "Banyaknya pertanyaan tentang kepangkatan di lingkungan TNI, ijinkan saya secara singkat menjelaskan tentang pangkat di lingkungan TNI sekarang ini," kata Hasanuddin kepada wartawan, Senin (22/6/2020).

Menurut Hasanuddin, di masa lalu kepangkatan aturannya masih sangat longgar karena saat itu TNI (ABRI) masih melaksanakan tugas Dwi Fungsi ABRI. Sehingga, kata dia, jabatan di militer pun kadang dipengaruhi oleh posisi di partai politik. "Seorang anggota TNI/ABRI aktif yang bertugas di DPC (Dewan Pimpinan Cabang) atau DPD 2 partai tertentu secara otomatis mendapatkan pangkat Kolonel," kata purnawirawan bintang dua TNI AD ini.

Hasanuddin menambahkan, perwira TNI yang bertugas sebagai ketua DPD 1 (Dewan Pimpinan Daerah) di tingkat provinsi mendapatkan pangkat Brigadir Jenderal. "Gubernur sudah pasti akan mendapatkan pangkat Bintang 2 (Mayor Jenderal) kecuali gubernur DKI Jakarta mendapat Bintang 3," tuturnya. Belum cukup, kata Hasanuddin, di masa Orde Baru (Orba) masih diberlakukan pangkat kehormatan (Hor).

Kolonel yang berprestasi baik, imbuh dia, kemudian pensiun maka padanya diberikan Brigjen Hor sebelum menjalankan masa pensiunnya atau Brigjen menjadi Mayjen Hor. "Atau Mayjen menjadi Letjen Hor. Bahkan setelah pensiunpun kadang masih ada yang diusulkan kenaikan pangkatnya dari Mayjen Pur menjadi Letjen Pur Hor. Dari Letjen Pur menjadi Jenderal Pur Hor," ungkapnya. Menurut Hasanuddin, di era Reformasi, setelah keluar Undang Undang No. 34/2004 tentang TNI, maka aturan aturan kepangkatan seperti di atas sudah tidak berlaku lagi.

Ia membeberkan, dalam pasal 27 UU no 34 tahun 2004 dijelaskan , bahwa pangkat menurut sifatnya dibedakan sebagai berikut : A. Pangkat efektif diberikan kepada prajurit selama menjalani dinas keprajuritan dan membawa akibat administrasi penuh. B. Pangkat lokal diberikan untuk sementara kepada prajurit yang menjalankan tugas dan jabatan khusus yang sifatnya sementara, serta memerlukan pangkat, yang lebih tinggi dari pangkat yang disandangnya guna keabsahan pelaksanaan tugas jabatan tersebut dan tidak membawa akibat administrasi.

C. Pangkat Tituler diberikan untuk sementara kepada warga negara yang diperlukan dan bersedia menjalankan tugas jabatan keprajuritan tertentu di lingkungan TNI, berlaku selama masih memangku jabatan keprajuritan tersebut serta membawa akibat administrasi terbatas. "Mengacu pada aturan perundang undangan maka dipastikan di TNI sekarang tidak akan terjadi lagi, seorang yang sudah pensiun kemudian naik pangkat lagi. Andaikan terjadi maka dipastikan itu merupakan pelanggaran terhadap UU," pungkasnya.

Continue Reading

Trending