Connect with us

Corona

Berlaku dari 15 Juni 2020 Gugus Tugas Terbitkan Surat Edaran Shift Kerja di Jabodetabek

Avatar

Published

on

Gugus Tugas Nasional mengantisipasi penularan virus SARS CoV 2 yang disebabkan kepadatan penumpang di fasilitas kendaraan umum pada hari kerja. Jaga jarak menjadi tantangan para pekerja, khususnya di wilayah Jabodetabek, yang bergerak bersama sama di jam sibuk jelang bekerja. Gugus Tugas Percepatanan Penanganan COVID 19 atau Gugus Tugas Nasional menyikapi situasi kepadatan dan jaga jarak atau physical distancing dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Pengaturan Jam Kerja pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman COVID 19 di wilayah Jakarata, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID 19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa berdasarkan data, satu moda transportasi, seperti communter line atau KRL, lebih dari 75% penumpang KRL adalah para pekerja, baik ASN, BUMN, maupun swasta. “Kalau kita perhatikan detail pergerakannya, hampir 45% mereka bergerak bersama sama di sekitar jam 5.30 sampai 6.30,” ujar Yurianto dalam siaran pers BNPB, Minggu, (14/6/2020). Yurianto mengatakan bahwa kondisi tersebut berisiko ketika para pekerja berangkat secara bersamaan pada jam yang hampir sama, menuju ke tempat kerja. Ini

Ini yang menjadi salah satu dasar, mengapa Gugus Tugas Pusat kemudian mengeluarkan Surat Edaran nomor 8 tahun 2020, tentang pengaturan jam kerja, pada adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Yang Produktif dan Aman Dari COVID 19 di wilayah Jabodetabek. Surat edaran tersebut akan mengatur dua tahapan awal mulai bekerja, yang diharapkan dapat berimplikasi pada akhir hari jam kerja. “Untuk gelombang pertama, kita berharap, bahwa seluruh institusi yang mempekerjakan ASN, BUMN, maupun swasta, akan menggunakan dua tahapan. Tahap pertama atau gelombang yang pertama, akan memulai pekerjaan mulai 07.00 sampai 07.30 WIB. Diharapkan dengan 8 jam kerja, maka akan mengakhiri pekerjaannya di 15.00 atau 15.30,” ujarnya.

Sementara gelombang yang kedua, diharapkan mulai bekerja pada pukul 10.00 sampai 10.30, sehingga diharapkan akan mengakhiri jam kerja pada 18.00 dan 18.30. Upaya ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara kapasitas moda transportasi umum dengan jumlah penumpang. “Agar protokol kesehatan, khususnya terkait dengan physical distancing, betul betul bisa dijamin. Pembagian ini tentunya tidak akan menghilangkan kebijakan yang kita harapkan diberikan oleh semua institusi, baik itu institusi pemerintah, BUMN, maupun swasta, untuk tetap mempekerjakan dari rumah untuk pegawainya yang memiliki risiko tinggi terpapar dan berdampak buruk kepada yang bersangkutan dari COVID 19,” ucapnya. Yurianto menyampaikan terkait pegawai berisiko tinggi terpapar dan berdampak buruk seperti mereka yang memiliki penyakit komorbid, antara lain hipertensi, diabetes ataupun kelainan penyakit paru obstruksi menahun dapat diberikan kebijakan untuk bekerja di rumah.

“Ini penting, karena kelompok kelompok inilah yang rentan,” jelasnya. Ia menambahkan juga pada pegawai yang masuk dalam kelompok usia lanjut. Mereka diharapkan dapat bekerja di rumah. “Kita tidak hanya berbicara tentang keberadaan para penumpang di dalam kereta, namun ada proses perjalanan dari rumah menuju ke stasiun. Proses menunggu di stasiun, dan demikian sebaliknya dari stasiun menuju tempat pekerjaan, dan seterusnya. Ini betul betul harus kita atur volumenya, sehingga _physical distancing_ bisa dilaksanakan dengan sebaik baiknya,” lanjut Yurianto.

Surat edaran akan mulai diterapkan pada esok hari (15/6/2020), sehingga penerapannya dapat mengoptimalkan pengendalian penularan COVID 19. Gugus Tugas berharap penerapan protokol kesehatan dapat diselenggarakan secara lebih baik, secara konsisten, baik pada sisi fasilitas yang tersedia, maupun pada sisi masyarakat yang menggunakan fasilitas itu. “Keseimbangan ini harus kita laksanakan dan kita membutuhkan kerjasama, dan partisipasi semuanya,” tutupnya.

Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat.

Corona

Tidak Ada Penelitian Sebutkan Deksametason & Hidroksiklorokuin buat Cegah Covid-19 Gugus Tugas

Avatar

Published

on

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 menilai bahwa hidroksiklorokuin dan deksametason tak bisa digunakan untuk mencegah virus corona (Covid 19). "Tidak ada penelitian menceritakan tentang itu (deksametason dan hidrosiklorokuin sebagai obat pencegah)," kata Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Prof Akmal Taher dalam siaran BNPB, Senin (29/6/2020). Sehingga, menurutnya, masyarakat jangan melakukan tindakan yang tak semestinya.

Ke apotek dan membeli deksametason dan hidroksiklorokuin sebagai obat pencegah Covid 19 bukanlah langkah tepat. "Bukan cuma tidak berkhasiat, tetapi bahayanya adalah efek samping yang kita khawatirkan," kata Akmal. Di kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Agus Dwi Susanto menjelaskan soal pemakaian deksametason dan hidroksilorokuin.

Deksametason diperuntukkan bagi pasien Covid 19 yang dirawat dalam kondisi berat, di antaranya menggunakan alat bantu seperti ventilator atau alat bantu p.ernapasan "Hidroklorokuin diberikan kepada dewasa sampai umur 50 tahun, tidak memiliki masalah penyakit jantung. Untuk anak, hanya diberikan pada kasus berat dan krisis dengan pemantauan yang ketat," ujarnya. Yang paling penting, dikatakan Agus, pemberian hidroksiklorokuin hanya boleh bagi pasien rawat inap.

"Jadi masyarakat diimbau tidak menggunakan ini (deksametason dan hidroksiklorokuin) secara sembarangan. Obat ini hanya atas rekomendasi dokter dan tentunya ada indikasi indikasi yang sudah ditetapkan," pungkas Agus.

Continue Reading

Corona

Pemeriksaan Spesimen Terkait Covid-19 Hari Ini Tembus 21.233

Avatar

Published

on

Juru bicara percepatan penanganan Covid 19 Achmad Yurianto mengatakan hari ini 21.233 spesimen terkait Covid 19 selesai diperiksa, Rabu (24/6/2020). Angka tersebut melampau target yang diberikan Presiden Jokowi setelah 4 hari berturut turut sejak hari Sabtu hingga Selasa kemarin selalu berada di bawah angka 20 ribu. "Sampai hari ini kita sudah memeriksa total keseluruhan spesimen sebanyak 689.492 spesimen," kata Achmad Yurianto dalam siaran BNPB.

Pemeriksaan spesimen, dikatakan Achmad Yurianto, dilakukan dengan dua metode. Metode pertama yakni real time polymerase chain reaction (PCR). Metode yang kedua merupakan tes cepat molekuler (TCM). Dari pemeriksaan tersebut, jumlah kasus positif yang terjadi di Indonesia mengalami penambahan 1.113 kasus.

"Covid 19 terkonfirmasi sebanyak 1.113 orang sehingga menjadi total kasus positif sebanyak 49.009 orang," ujar Achmad Yurianto. Angka penambahan tersebut diketahui meningkat ketimbang kasus penambahan positif Covid 19 pada Senin kemarin, yang sebesar 1.051 orang. Achmad Yuri mengatakan sebanyak 19.658 pasien dinyatakan sembuh setelah terjadi penambahan pasien sembuh sebanyak 417 orang.

"Sementara jumlah yang meninggal dunia menjadi 2.573 rang setelah penambahan 38 orang," katanya. Tim Komunikasi Publik, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Dokter Reisa Broto Asmoro mengatakan berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan jurnal ilmiah Lancet protokol jaga jarak atau physical distancing dapat menurunkan risiko penularan Covid 19 hingga 85 persen. Dalam jurnal tersebut menurut dokter Reisa disebutkan bahwa jarak yang aman adalah 1 meter dari satu orang dengan orang lain.

"Ini merupakan langkah pencegahan terbaik bisa menurunkan risiko sampai dengan 85 persen," kata Dokter Reisa di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (10/6/2020). Menurutnya, protokol jaga jarak sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid 19 paling efektif menurunkan transmission rate atau angka penularan. Terutama, ketika berada di ruang publik, seperti transportasi umum.

Sebagaimana diketahui virus SARS CoV 2 menular atau ditularkan melalui droplet atau percikan air liur. Maka dalam hal ini, dokter Reisa juga menyarankan agar masyarakat tetap menggunakan masker saat harus keluar rumah, terutama apabila menggunakan layanan transportasi publik. "Virus corona jenis baru penyebab Covid 19 menular melalui droplet atau percikkan air liur, maka wajib semua orang menggunakan masker, terutama ketika menggunakan transportasi," jelasnya.

Selanjutnya apabila terpaksa menggunakan transportasi umum, dokter Reisa mengimbau masyarakat agar menghindari memegang gagang pintu, tombol lift, pegangan tangga, atau barang barang yang disentuh orang banyak. Kalau terpaksa, maka harus langsung cuci tangan. "Apabila tidak memungkinkan, menggunakan air dan sabun, maka dapat menggunakan hand rub dengan kadar alkohol minimal 70 persen," katanya.

Kemudian, dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak meletakkan barang barang bawaan atau tas di kursi atau lantai transportasi umum. Selain itu, mengkonsumsi makanan atau minuman di transportasi umum juga sebaiknya tidak dilakukan, sebab dapat terkontaminasi. "Hindari menggunakan telepon genggam di tempat umum, terutama apabila berdesakan dengan orang lain, sehingga tidak bisa menjaga jarak aman," jelasnya.

"Hindari makan dan minum, ketika berada di dalam transportasi umum. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi, apalagi kalau menggunakan tangan yang tidak bersih," tambah dokter Reisa.

Continue Reading

Corona

Tentu Tidak Jubir Presiden Apakah Pemerintah Pakai Cara Herd Immunity

Avatar

Published

on

Pemerintah memastikan dalam menuju kenormalan baru atau new normal di tengah pandemi virus corona atau Covid 19, herd immunity tak akan dilakukan. Juru bicara Presiden Fadjroel Rachman menekankan protokol kesehatan yang ketat harus terus dijalankan oleh masyarakat menuju kenormalan baru. Hal itu disampaikan Fadjroel saat webinar 'Mengukur Upaya Pemerintah Dalam Penanganan Covid 19' melalui virtual, Kamis (18/6/2020).

"Pemerintah, apakah memakai cara Herd immunity? Tentu tidak," kata Fadjroel. Herd immunity adalah konsep epidemiologis yang menggambarkan keadaan di mana suatu populasi cukup kebal terhadap penyakit sehingga infeksi tidak akan menyebar dalam kelompok itu. Fadjroel menjelaskan, jika pemerintah menerapkan herd immunity di saat seperti ini, untuk apa Presiden Jokowi membentuk Gugus Tugas Nasional, Gugus Tugas di 34 Provinsi, Gugus Tugas di 495 Kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Selain itu, Fadjroel mengatakan, pemerintah telah menyiapkan 185 laboratorium untuk tes PCR hingga Rumah Sakit (RS) Darurat rujukan pasien Covid 19 di Wisma Atlet Kemayoran, Pulau Galang hingga Pulau Sebaru. "Swmuanya sidah disiapkan oleh pemerintah," ucap Fadjroel. Fadjroel juga mengungkapkan keseriusan pemerintan menghadapi pandemi ini.

Salah satu langkah yang saat ini terus dikejar yakni tes masiv dengan cakupan 20 ribu orang setiap harinya. "Apabila kita menganut herd immunity maka tidak mungkin Presiden Jokowi meminta tugas tugas untuk mentesting sampai 20 ribu per hari pada bulan Juni," jelasnya.

Continue Reading

Trending